Kunjungan Wisatawan ke Jatiluwih Melonjak 100 Persen, Didominasi Turis Eropa

Foto : Kunjungan wisatawan ke Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, mengalami peningkatan signifikan memasuki periode musim ramai atau high season. Jumlah kunjungan saat ini rata-rata mencapai sekitar 1.500 wisatawan per hari atau meningkat hingga 100 persen dibandingkan periode normal.

TABANAN,Breaking-news.co.id | Kunjungan wisatawan ke Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, mengalami peningkatan signifikan memasuki periode musim ramai atau high season. Jumlah kunjungan saat ini rata-rata mencapai sekitar 1.500 wisatawan per hari atau meningkat hingga 100 persen dibandingkan periode normal.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Purna yang akrab disapa John, mengatakan peningkatan kunjungan mulai terlihat sejak Juli 2026 dan diperkirakan berlangsung hingga akhir September. Wisatawan mancanegara, khususnya dari kawasan Eropa, menjadi kelompok yang paling banyak berkunjung.

Bacaan Lainnya

“Sekarang memang sedang high season, khususnya wisatawan Eropa. Rata-rata kunjungan sekitar 1.500 per hari,” ujar John, Kamis (27/8/2026).

Menurut John, peningkatan tersebut merupakan pola musiman yang terjadi setiap tahun. Setelah memasuki Oktober, jumlah kunjungan diperkirakan kembali mengalami penurunan. Arus wisatawan kemudian diproyeksikan kembali meningkat menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru.

“Setelah itu turun. Prediksinya mulai tanggal 20 Desember kunjungan akan kembali meningkat hingga akhir tahun,” jelasnya.

Peningkatan kunjungan tahun ini berlangsung bersamaan dengan aktivitas pertanian masyarakat Jatiluwih yang memasuki masa panen raya. Kondisi tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan karena mereka tidak hanya dapat menikmati panorama persawahan terasering, tetapi juga melihat secara langsung aktivitas pertanian yang masih dilakukan masyarakat setempat.

Jatiluwih selama ini dikenal dengan lanskap sawah terasering yang dikelola melalui sistem pertanian tradisional Bali. Aktivitas pertanian menjadi bagian penting dari karakter kawasan tersebut sehingga keberlangsungannya tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga dengan keberadaan lanskap budaya dan kehidupan masyarakat.

Pengelola DTW Jatiluwih kini berupaya mengembangkan pola kunjungan yang lebih interaktif dengan mendorong wisatawan untuk mengenal aktivitas masyarakat agraris secara langsung.

Wisatawan nantinya tidak hanya diarahkan untuk menikmati pemandangan, tetapi juga dapat mengikuti sejumlah kegiatan, seperti proses panen serta mengenal dan membuat peralatan tradisional yang berkaitan dengan aktivitas persawahan.

“Kami sekarang menyiapkan aktivitas untuk wisatawan supaya mereka tidak hanya melihat sawah saja, tetapi bisa ikut langsung. Seperti ikut panen dan membuat alat-alat tradisional yang berhubungan dengan persawahan,” ungkap John.

Pengembangan aktivitas tersebut diarahkan untuk memperkuat wisata berbasis alam dan budaya. Dengan demikian, kunjungan wisatawan tidak semata-mata berorientasi pada pemandangan, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai kehidupan masyarakat, tradisi pertanian, serta nilai budaya yang membentuk kawasan Jatiluwih.

Selain mengembangkan aktivitas wisata berbasis pertanian, pengelola juga menyiapkan rencana pengembangan kawasan hutan rakyat. Program tersebut diarahkan pada kegiatan penghijauan dan penanaman pohon sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan di kawasan wisata.

“Kami berencana membuat hutan rakyat juga, seperti penanaman pohon untuk pelestarian. Konsepnya seperti di Kebun Raya Bali,” kata John.

Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya menyeimbangkan peningkatan aktivitas pariwisata dengan kebutuhan menjaga lingkungan. Lonjakan jumlah wisatawan berpotensi memberikan dampak terhadap kawasan apabila tidak diikuti dengan pengelolaan yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Karena itu, pengembangan destinasi tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga pada kualitas pengalaman wisata dan keberlanjutan kawasan.

Dengan memadukan panorama persawahan terasering, aktivitas pertanian masyarakat, pengenalan budaya lokal, serta rencana penghijauan, Jatiluwih diarahkan menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbasis alam dan budaya secara lebih utuh.

Peningkatan kunjungan wisatawan hingga sekitar 1.500 orang per hari selama musim ramai sekaligus menjadi momentum bagi pengelola dan masyarakat untuk memastikan aktivitas pariwisata tetap memberikan manfaat ekonomi tanpa mengurangi fungsi pertanian dan kelestarian lingkungan yang menjadi bagian penting dari identitas Jatiluwih. (kyn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *