TABANAN,Breaking-news.co.id | Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, kembali menggelar Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 pada tanggal 28 hingga 30 Agustus 2026. Festival tahunan ini tidak hanya menjadi agenda hiburan bagi wisatawan, tetapi juga diarahkan sebagai ruang promosi budaya, kuliner tradisional, serta penguatan ekonomi masyarakat lokal.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Sunset in Paradise dan Ulam Carik menjadi dua ikon utama yang ditonjolkan selama tiga hari festival. Konsep tersebut memadukan daya tarik panorama matahari terbenam di Tanah Lot dengan kekayaan seni budaya dan kuliner tradisional khas Tabanan.
Manajer DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, didampingi Bendesa Adat Beraban, I Ketut Sujana, Senin (24/8/2026), mengatakan konsep Sunset in Paradise akan dikemas melalui Parade Gebogan dan Baleganjur yang digelar bertepatan dengan waktu matahari terbenam.
“Nanti pengunjung bisa menyaksikan parade budaya ini sekaligus menikmati sunset di Tanah Lot,” ujar Sudiana.
Menurutnya, Parade Gebogan dan Baleganjur menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari Festival Tanah Lot. Kedua kesenian tersebut dinilai telah menjadi identitas sekaligus marwah penyelenggaraan festival sejak pertama kali digelar.
Selain memperkuat daya tarik budaya, konsep tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Manajemen DTW Tanah Lot menargetkan kunjungan selama festival meningkat sekitar 80 hingga 90 persen dibandingkan rata-rata kunjungan harian di luar pelaksanaan festival.
“Di luar festival, kunjungan harian mencapai 3.000–4.500 orang. Sehingga harapan kami saat festival target kunjungan bisa menyentuh di 9.000 hingga 10.000-an per hari,” kata Sudiana.
Dengan target tersebut, pengelola juga memproyeksikan perputaran ekonomi selama tiga hari pelaksanaan festival dapat mencapai Rp10 miliar. Potensi tersebut semakin terbuka karena pelaksanaan festival bertepatan dengan periode high season, khususnya meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara pada Agustus.
Sementara itu, Bendesa Adat Beraban, I Ketut Sujana, mengatakan unsur masyarakat lokal akan menjadi bagian utama dalam Parade Gebogan dan Baleganjur. Sebanyak 15 banjar adat di Desa Beraban dilibatkan dalam rangkaian parade.
“Tahun ini untuk parade gebogan dan baleganjur khusus dilakukan oleh Desa Adat Beraban. Setiap hari, ada lima banjar yang tampil,” ujar Sujana.
Gebogan yang ditampilkan juga memiliki konsep khusus dengan nuansa Tridatu, yakni merah, putih, dan hitam. Konsep ini diharapkan memberikan karakter visual tersendiri sekaligus memperkuat identitas budaya dalam festival.
Selain seni dan budaya, Festival Tanah Lot tahun ini juga mengangkat kekayaan kuliner tradisional melalui tema Ulam Carik. Tema tersebut merujuk pada berbagai olahan pangan warisan leluhur Tabanan yang bahan bakunya berasal dari lingkungan persawahan.
Sejumlah kuliner tradisional yang diperkenalkan antara lain lindung metunu atau belut panggang dengan sambal bejek, jukut gondo yang merupakan sayuran khas Tabanan, serta olahan kakul atau keong sawah dengan bumbu suna cekuh yang menggunakan bawang putih dan kencur.
Ada pula pesan testes, yakni pepes berbahan protein ikan air tawar, serta olahan kuah dengan daging kakul. Untuk minuman dan kudapan tradisional, pengunjung dapat menemukan rujak bir, jaje uli tape, rujak tibah berbahan mengkudu, hingga loloh cem-cem.
Menariknya, bahan-bahan yang digunakan dalam kuliner Ulam Carik berasal dari produsen lokal yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Tabanan. Dengan demikian, festival tidak hanya memperkenalkan makanan tradisional kepada wisatawan, tetapi juga membuka ruang pemasaran bagi produk pangan masyarakat setempat.
Pengunjung nantinya juga berkesempatan mencicipi sejumlah kuliner tersebut secara gratis pada waktu-waktu tertentu selama festival berlangsung.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tabanan, I Gede Susila, yang mewakili Bupati Tabanan, menegaskan Festival Tanah Lot harus terus dilaksanakan sebagai bagian dari strategi promosi destinasi wisata Tabanan.
“Festival ini tidak boleh berhenti, tidak harus digelar secara besar, namun tidak sederhana juga. Dalam tiap momen kita selalu perkenalkan apa saja yang ada, dan hal baru yang ditampilkan agar tidak terkesan template setiap tahun,” ujar Susila.
Menurutnya, meskipun Tanah Lot telah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata berkelas internasional, promosi secara berkelanjutan tetap diperlukan. Pembaruan konsep dan atraksi menjadi penting untuk menjaga minat wisatawan agar terus berkunjung.
“Pemerintah daerah selalu mendorong agar Tanah Lot tetap eksis sehingga kunjungan wisatawan selalu booming. Selain itu, sesuai dengan harapan Bupati Tabanan, bahwa Kabupaten Tabanan sekarang harus jadi titik kumpul masyarakat dan berbagai komunitas di Bali,” pungkasnya.
Melalui Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026, pengelola dan Pemerintah Kabupaten Tabanan tidak hanya mengejar peningkatan angka kunjungan. Festival juga diarahkan menjadi sarana memperkenalkan kembali seni, tradisi, serta kuliner lokal kepada wisatawan sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Perpaduan panorama sunset, Parade Gebogan dan Baleganjur, serta kuliner Ulam Carik menjadi strategi untuk memberikan pengalaman wisata yang lebih beragam. Dengan konsep tersebut, Tanah Lot diharapkan tetap menjadi destinasi yang tidak hanya kuat dari sisi keindahan alam, tetapi juga memiliki daya tarik budaya dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. (kyn)






