TABANAN,Breaking-news.co.id | Tanah Lot Art and Food Festival ke-7 digelar di Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, selama tiga hari dari 28 hingga 30 Agustus 2026. Festival ini tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat dan wisatawan, tetapi juga diarahkan menjadi ruang titik kumpul pertemuan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), seniman, serta masyarakat untuk memperkuat perekonomian lokal melalui sektor pariwisata.
Ratusan pelaku UMKM dari sejumlah desa di Tabanan terlibat dalam kegiatan tersebut. Produk yang ditampilkan antara lain makanan tradisional, kerajinan, busana, serta berbagai bentuk kesenian lokal.
Kehadiran pelaku usaha dari desa-desa menjadi bagian dari upaya memperluas keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi yang muncul dari sektor pariwisata. Dengan demikian, perputaran ekonomi di kawasan destinasi diharapkan tidak hanya dirasakan oleh pengelola pariwisata, tetapi juga pelaku usaha kecil, perajin, seniman, dan masyarakat sekitar.
Sejumlah makanan tradisional Bali turut diangkat dalam festival, di antaranya pepes lindung, entil, dan kakul atau keong. Penggunaan kuliner tradisional tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pangan lokal dan menjaga keberadaan makanan khas yang berkembang di tengah masyarakat desa.
Selain kuliner, berbagai kesenian lokal juga ditampilkan selama festival berlangsung. Kesenian tersebut menjadi bagian dari ruang pelestarian budaya sekaligus memberikan kesempatan kepada seniman untuk terlibat dalam aktivitas pariwisata.
Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga mengatakan keterlibatan UMKM, perajin, dan seniman lokal merupakan bagian penting dalam pengembangan pariwisata yang memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.
Menurut Dirga, perkembangan pariwisata perlu diikuti dengan keterlibatan masyarakat lokal sehingga aktivitas ekonomi yang tercipta dari kunjungan wisatawan dapat memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Keterlibatan UMKM, perajin dan seniman lokal sangat penting dalam pengembangan pariwisata. Dengan begitu, kegiatan pariwisata dapat memberikan manfaat dan menggerakkan perekonomian masyarakat,” kata I Made Dirga seusai membuka festival.
Wakil Bupati Dirga menilai kegiatan berbasis budaya dan ekonomi masyarakat dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan potensi desa dengan aktivitas pariwisata.
Menurutnya, kuliner tradisional, kerajinan, dan kesenian tidak semata-mata menjadi produk yang ditampilkan kepada wisatawan, tetapi juga merupakan bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat yang perlu dipertahankan.
“Selain menggerakkan aktivitas ekonomi, kegiatan seperti ini juga penting untuk mempertahankan kuliner dan kesenian tradisional yang ada di masyarakat,” ujarnya.
Festival tersebut juga mendapat perhatian dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Tanah Lot. Salah satunya Junae, wisatawan asal Prancis, yang mengaku tertarik dengan budaya, kuliner, dan kerajinan tradisional Bali.
Junae mengatakan dirinya mengetahui keberadaan festival tersebut dari pemandu wisata. Kunjungan kali ini menjadi kunjungan ketiganya ke Bali dan dilakukan bersama keluarga.
“Budaya dan makanan Bali sangat menarik. Kerajinan tradisional masyarakat Bali juga unik dan indah. Saya sudah tiga kali datang ke Bali dan menikmati kunjungan bersama keluarga,” kata Junae.
Ketertarikan wisatawan terhadap kuliner dan kerajinan tradisional menunjukkan bahwa potensi ekonomi masyarakat desa dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang berbasis budaya. Namun, pengembangan tersebut tetap perlu memperhatikan keberlanjutan tradisi dan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik budaya.
Kegiatan seperti Tanah Lot Art and Food Festival menjadi salah satu bentuk pengintegrasian sektor pariwisata dengan ekonomi kreatif dan usaha masyarakat. Pelaku UMKM memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk, sementara seniman mendapatkan kesempatan untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan aktivitas kesenian.
Dari sisi pembangunan daerah, keterlibatan masyarakat lokal menjadi penting agar pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
Pola tersebut juga dapat mendorong desa untuk mempertahankan potensi lokalnya, baik berupa makanan tradisional, kerajinan maupun kesenian. Pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal sekaligus dapat menjadi upaya menjaga keberagaman budaya di tengah perkembangan pariwisata.
Tanah Lot Art and Food Festival ke-7 berlangsung hingga 30 Agustus 2026. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dikembangkan dengan melibatkan daya tarik wisata lainnya di Kabupaten Tabanan.
Pengembangan kegiatan di berbagai kawasan wisata diharapkan mampu memperluas keterlibatan pelaku UMKM, perajin, seniman dan masyarakat desa. Dengan pendekatan tersebut, pariwisata tidak hanya menjadi sektor kunjungan, tetapi juga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat secara lebih merata dan berkelanjutan. (kyn)






