TABANAN, Breaking-news.co.id | Tebing batu paras di bawah badan jalan penghubung Desa Kukuh dengan Desa Peken, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, longsor sepanjang 20 meter pada Rabu (15/4/2026) sore. Peristiwa ini memicu kekhawatiran serius warga, mengingat kondisi struktur jalan yang rapuh dan posisinya yang diapit dua pura besar di sisi utara dan selatan.
Longsor terjadi pada tebing setinggi sekitar 20 meter dari dasar Sungai Yeh Ege yang mengalir tepat di bawah jalur tersebut. Selain faktor erosi, kondisi diperparah dengan keberadaan terowongan di bawah badan jalan yang terbuat dari batu paras merah berkualitas rendah, sehingga mudah rapuh dan berpotensi memicu ambruk susulan.
Jalur ini merupakan jalan provinsi yang memiliki peran vital sebagai penghubung antar desa, sekaligus akses utama menuju kawasan wisata populer seperti Tanah Lot dan Bedugul. Intensitas kendaraan, khususnya kendaraan berat seperti bus pariwisata, dinilai memperbesar risiko runtuhnya badan jalan akibat getaran yang terus-menerus.
Kepala Desa Peken, Ida Bagus Nyoman Parwata, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sebenarnya telah lama dilaporkan kepada pihak terkait, namun belum mendapatkan penanganan maksimal hingga akhirnya terjadi longsor.
“Kami sudah berulang kali melaporkan kondisi rapuhnya tebing dan dasar jalan ini. Sekarang longsor benar-benar terjadi, dan ini sangat membahayakan, baik bagi pura yang berada di bawah maupun pengguna jalan,” tegasnya pada Kamis (16/4/2026).
Keberadaan dua pura di lokasi tersebut, yakni Pura Anyar yang diempon warga Banjar Pekandelan, Desa Peken, serta Pura Agung yang diempon warga Desa Blayu dan kerabat Puri Blayu, semakin menambah kompleksitas risiko. Kedua pura ini berada tepat di bawah badan jalan, dengan jarak sekitar 20 meter dari permukaan jalan.
Kelian Adat Banjar Pekandelan, I Wayan Sumantara, menjelaskan bahwa kondisi geografis ini membuat warga pengempon pura sangat waspada terhadap kemungkinan longsor susulan maupun dampak luapan air sungai.
“Pura berada cukup jauh di bawah jalan dan diapit dua sisi. Kalau terjadi longsor susulan atau material jatuh ke sungai, bisa memicu luapan air yang berdampak ke Pura Beji di sekitar Pura Anyar. Ini yang sangat kami khawatirkan,” jelasnya pada Kamis, 16/4/2026.
Ia juga menambahkan bahwa sebelumnya sempat terjadi runtuhan kecil pada terowongan dan tebing, namun tidak sebesar kejadian kali ini. Kondisi tersebut menandakan adanya penurunan kualitas struktur yang terus berlangsung.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali, Nusakti Yasa Weda, menyatakan bahwa penanganan masih dalam tahap kajian teknis untuk menentukan solusi terbaik. Ia menyebutkan bahwa salah satu opsi yang memungkinkan adalah pembangunan jembatan, mengingat kondisi struktur tanah dan keberadaan sistem irigasi di lokasi tersebut.
“Penanganannya masih kami pelajari secara teknis. Kemungkinan membutuhkan solusi berupa jembatan, karena berkaitan juga dengan aliran irigasi yang menjadi kewenangan kabupaten,” ujarnya.
Hingga saat ini, pemerintah masih melakukan perencanaan dan pengecekan menyeluruh sebelum menentukan langkah penanganan yang tepat. Warga pun berharap agar proses tersebut dapat segera dipercepat, mengingat jalur ini sangat vital dan menyangkut keselamatan masyarakat serta keberadaan kawasan suci.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat melintas di jalur tersebut, terutama saat kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi memperparah kerusakan tebing dan struktur jalan. (kyn).






