Dari Kaki Batukaru, Bawaslu Bali Merawat Harapan untuk Pemilu dan Alam

Foto : Kegiatan JALA (Jaga Alam dan Lingkungan) Bali ke-7 oleh Bawaslu Provinsi Bali bersama tuan rumah, Bawaslu Kabupaten Tabanan di Pura Batukaru, Penebel, Tabanan, pada Rabu ( 14/10).

TABANAN, Breaking-news.co.id | Kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Batukaru ketika rombongan Bawaslu se-Bali tiba di Pura Luhur Batukaru, Desa Wongaya Gede, Penebel, Tabanan, Rabu (14/10). Bukan untuk mengawasi, melainkan untuk merawat.

Di Pura yang menjadi salah satu simpul keseimbangan alam Bali itu, Bawaslu Provinsi Bali menggelar JALA (Jaga Alam dan Lingkungan) Bali ke-7. Sebagai tuan rumah, Bawaslu Kabupaten Tabanan menyambut langsung kegiatan yang mempertemukan seluruh jajaran pengawas pemilu se-Bali ini.

Bacaan Lainnya

Rangkaian JALA ke-7 diawali dengan sembahyang bersama sebagai wujud syukur dan doa agar alam Bali tetap lestari. Usai persembahyangan, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan burung cerucuk, penanaman pohon Cepaka, aksi bersih sampah di kawasan suci, serta pemberian pakan ikan sebagai simbol harmoni Tri Hita Karana.

Hadir Anggota Bawaslu Provinsi Bali I Nyoman Gede Putra Wiratma dan Gede Sutrawan, Kepala Badan Kesbangpol Tabanan I Made Murdika yang mewakili Bupati Tabanan, Ketua Bawaslu Tabanan I Ketut Narta beserta Anggota Ni Putu Ayu Winariati dan I Made Winarya, Ketua KPU Tabanan I Wayan Suwitra, Perwakilan Camat Penebel I Gede Putu Suyadnya, serta Bendesa Adat Wangaya Gede I Wayan Darma Putra.

Pemilihan Pura Luhur Batukaru bukan kebetulan. Dalam kosmologi Bali, kawasan ini adalah hulu, sumber kesuburan, dan paru-paru Pulau Dewata. Di sanalah konsep Wana Kerthi – pemuliaan hutan dan gunung sebagai sumber kehidupan – menemukan tempatnya yang paling nyata.

“Menjaga lingkungan itu seperti menanam. Apa yang kita rawat hari ini, akan kita tuai di masa depan,” ujar Anggota Bawaslu Bali Gede Sutrawan dalam sambutannya.

Ia mengaitkan filosofi menanam itu dengan kerja-kerja pengawasan. Menurutnya, apa yang ditanam Bawaslu berupa kepercayaan dan kedekatan dengan masyarakat di masa non-tahapan ini, kelak akan dituai sebagai kualitas demokrasi pada Pemilu 2029.

Senada dengan itu, Kepala Kesbangpol Tabanan I Made Murdika menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.

“Merawat dan menjaga alam tidak cukup sehari. Ini harus menjadi komitmen bersama, karena kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab kita semua,” tuturnya.

Bagi tuan rumah, makna JALA jauh lebih dalam. Ketua Bawaslu Tabanan I Ketut Narta menyebut Pura Luhur Batukaru sebagai pusat Wana Kerthi.

“Kawasan ini adalah paru-paru Bali dan sumber kesuburan bagi Tabanan. Karena itu kami memilih merawatnya melalui pelepasan burung, menanam pohon, hingga membersihkan sampah,” kata Narta.

Narta menambahkan, JALA adalah penanda bahwa Bawaslu tidak hanya hadir saat ada sengketa dan pelanggaran, tetapi juga hadir melalui kontribusi nyata bagi kemanusiaan dan lingkungan. Sebuah cara untuk mempererat kedekatan Bawaslu dengan masyarakat dan pemangku adat.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Bawaslu Provinsi Bali yang mempercayakan Tabanan sebagai tuan rumah, serta kepada Pemerintah Kabupaten Tabanan, Desa Adat Wongaya Gede, dan pengempon Pura Luhur Batukaru yang telah membuka jalan bagi kolaborasi ini.

Dari Batukaru, pesan itu mengalir jernih: pengawasan di masa non-tahapan tidak berhenti. Ia bertransformasi, dari mengawasi kotak suara menjadi menjaga sumber kehidupan. (kyn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *