TABANAN, Breaking-news.co.id | Labyrinth Art Gallery di kawasan Nuanu Creative City menghadirkan pameran seni bertajuk Semburat Bali yang menawarkan beragam perspektif tentang wajah Bali masa kini. Pameran kelompok yang dikuratori Samuel David ini resmi dibuka pada 7 Februari 2026 dan akan berlangsung hingga 22 Maret 2026, menampilkan karya 12 seniman yang merefleksikan realitas sosial dan budaya Bali saat ini.

Pameran ini mengajak publik melihat Bali bukan hanya dari sisi tradisi yang melekat, tetapi juga dari dinamika perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Melalui karya seni, Semburat Bali menampilkan keseharian masyarakat yang terbentuk dari perjumpaan budaya, perkembangan kawasan, migrasi, hingga pengaruh era digital.
Gallery Director Labyrinth Art Gallery, Kelsang Dolma, menegaskan bahwa kehadiran galeri di Bali harus mampu merespons perkembangan sosial budaya yang terjadi di Pulau Dewata. “Nuanu dibangun di Bali, dan harus relevan dengan konteks Bali itu sendiri. Pulau ini berubah dengan cepat, dan tradisi serta praktik kontemporer berjalan berdampingan. Labyrinth hadir memberi ruang bagi seniman untuk merespons realitas tersebut secara jujur,” ujarnya.
Pameran ini menghadirkan seniman yang memiliki keterkaitan langsung dengan Bali, baik yang lahir dan besar di Bali maupun yang datang dari daerah lain dan kini menjadi bagian dari kehidupan sosial di pulau ini. Keragaman latar belakang tersebut menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam memaknai Bali.
Kurator pameran, Samuel David, menjelaskan bahwa Semburat Bali tidak berupaya memberikan definisi tunggal tentang Bali, melainkan membuka ruang dialog tentang kompleksitas yang terjadi. “Pameran ini tidak mencoba mendefinisikan Bali secara final. Saya sendiri harus banyak belajar ulang sejak pindah ke Bali. Pameran ini menawarkan pandangan lebih dekat pada realitas sehari-hari dan gagasan yang hidup di dalamnya,” jelasnya.
Sebanyak 12 seniman turut berpartisipasi dalam pameran ini, yakni Agus Mediana, Eka Sutha, I Gede Sukarya, I Wayan Piki Suyersa, Imam Sucahyo, Made Wahyu Senayadi, Putu Septa, Rio Saren, Sarita Ibnoe, Suartama Bijal, Sugiada Anduk, dan Ni Wayan Wicitra Pradnyaratih. Karya-karya mereka mencerminkan berbagai pengalaman personal yang membentuk narasi tentang Bali hari ini.
Penyelenggaraan Semburat Bali juga menjadi bagian dari komitmen Nuanu Creative City dalam membangun ekosistem kreatif yang berakar pada konteks lokal. Seni diposisikan sebagai ruang pertemuan antara seniman, publik, dan lingkungan, sehingga mampu mendorong pertukaran gagasan dan pemahaman bersama.
Labyrinth Art Gallery sendiri hadir sebagai ruang seni kontemporer yang tidak hanya menampilkan pameran, tetapi juga menjadi wadah dialog dan kolaborasi antara seniman lokal dan global. Galeri ini berupaya mempermudah akses masyarakat terhadap seni sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Sementara itu, Nuanu Creative City dikembangkan sebagai kawasan kreatif terpadu seluas 44 hektar di Bali yang menggabungkan ruang pendidikan, seni, budaya, hiburan, hingga gaya hidup berbasis alam. Kawasan ini diharapkan mampu menjadi pusat kolaborasi kreatif sekaligus ruang tumbuhnya budaya inovasi yang selaras dengan nilai lokal Bali. (kyn)






