DENPASAR, Breaking-news.co.id | Polda Bali menggelar talkshow bersama Ikatan Keluarga Sumba (IKKES) Bali bertema “Dinamika Kebhinekaan dan Tantangan Stabilitas Nasional di Bali dalam Perspektif Keamanan”, Sabtu (14/2/2026) di Gedung Presisi PRG Polda Bali.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 150 peserta ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Dirintelkam Polda Bali, Kombes Pol. Syahbuddin, S.I.K., Penyarikan Agung MDA Provinsi Bali, Anggota DPR RI Dapil NTT II, perwakilan pemerintah kabupaten se-Sumba, serta berbagai organisasi kemasyarakatan seperti IKES Bali dan Flobamora Bali.
Dalam sambutannya, Dirintelkam Polda Bali menegaskan bahwa Bali merupakan miniatur Indonesia yang majemuk, terbuka, dan dinamis. Stabilitas keamanan di Bali hanya dapat terjaga apabila keberagaman dikelola dengan semangat toleransi, literasi digital yang kuat, serta sinergi seluruh elemen masyarakat.
“Tingginya mobilitas global di Bali memang membawa manfaat ekonomi yang besar, namun juga meningkatkan potensi kerawanan sosial. Oleh karena itu, intoleransi, radikalisme, dan disinformasi digital harus diantisipasi secara preventif melalui deteksi dini, edukasi, dan kolaborasi sosial,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan bangsa. Masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi serta lebih bijak dalam bermedia sosial sebagai bagian dari menjaga keamanan bersama.

Talkshow ini menekankan pentingnya penguatan komunikasi lintas agama, budaya, dan komunitas, dengan peran aktif tokoh masyarakat sebagai penyejuk dinamika sosial. Sinergitas antara aparat keamanan, desa adat, dan seluruh unsur masyarakat dinilai menjadi kunci dalam mencegah potensi konflik dan menjaga stabilitas Bali.
Menguatkan pesan tersebut, disampaikan pula nilai kearifan lokal Bali:
“Tat Twam Asi” — aku adalah engkau, engkau adalah aku — yang mengajarkan empati, saling menghormati, dan menjaga harmoni dalam kehidupan bersama.
Kegiatan berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif, memperlihatkan komitmen bersama untuk menjaga Bali tetap aman, harmonis, dan inklusif.
Menutup kegiatan, ditegaskan bahwa stabilitas bukan sekadar kondisi, tetapi hasil dari komitmen bersama.
“Melalui sinergi dan toleransi, Bali akan tetap kokoh sebagai wajah Indonesia yang damai dan berdaya saing.”





