BANGLI, Breaking-news.co.id | Video tiktok siswa SMAN. 1 Bangli yang viral membagi- bagikan makanan dari dapur MBG kepada pihak lain yang nota bena menolak untuk mengkonsumsinya, Jumat(27/2-2026) menjadi perhatian serius berbagai kalangan.
Ketua DPRD Bangli, I Ketut Suastika, Jumat (27/2-2026) ketika ditanya awak media atas tiktok tersebut meminta agar antara pihak- pihak diajak untuk berdialog, baik dari pihak penyedia makanan (dapur MBG dan pihak siswa serta guru) mesti duduk bersama untuk membedah agar jelas apa sesungguhnya yang terjadi dengan makanan dari program makan bergizi gratis (MBG) tersebut. ” Pihak sekolah juga mesti mau terbuka menyelesaikan manfaat MBG supaya tepat sasaran. Intinya harus dikoreksi dan segera dibenahi”, ujar Suastika via ponselnya.
Dalam tayangan tiktok berjudul “Membagikan makanan yang ga kemakan” tersebut menjadi viral di jagat maya. Para siswi tampak membungkus makanan dari ompreng (piring) dapur MBG, lalu membagikannya kepada pihak lain. Dibagikan kepada pihak lain dalam kemasan nasi bungkus. Tampak siswi sibuk dengan nada gurau membungkus nasi tersebut untuk dibagikan kepada mereka yang dianggap membutuhkan. Namun tidak diungkapkan dengan lugas alasan mereka ga mau makan makanan tersebut.
Atas penomena tersebut, Kepala SMAN. 1 Bangli, Drs.Komang Gede Juliarta Danendra, M. Pd kepada awak media, via ponselnya, Jumat (27/2-2026) menyampaikan bahwa tugas sekolah adalah membantu mendistribusikan makanan kepada siswa, bukan memaksa siswa untuk makan makanan dari MBG tersebut. ” Itu hak mereka, tidak mungkin kami guru menghukum mereka yang tidak mau makan makanan dari MBG”, tegas Danendra.
Pihaknya mengaku telah menyampaikan kepada siswa seputar program MBG. Bahwa MBG merupakan program dari niat baik pemerintah untuk perbaikan gizi generasi muda Indonesia. ” Makanan dari MBG seharusnya dimakan, bukan dibuang- buang, saya ilustrasikan kalau ada 20 biji nasi dibuang setiap hari dikalikan sejumlah siswa (penduduk usia sekolah) maka akan ada beras terbuang 17 ton setiap hari. Sedangkan untuk mendapatkan 1 butir nasi petani harus menunggu 90- 115 hari, begitu pesan kami kepada siswa untuk menghargai sebutir nasi”, papar Danendra.
Danendra mengutip keterangan pihak MBG, bahwa makanan belum tentu enak tetapi bergizi. ” Nah ini yang dile moodmatis. Kalau makanannya enak pasti habis, kalau tidak habis… “, ujarnya dengan narasinya terpenggal, sembari menambahkan bahwa pihaknya senantiasa berkoordinasi dengan dapur MBG saat ada keluhan siswa. (sum)





