Angin Barat Menguat di Sasih Kaulu, Masyarakat Tabanan Diimbau Waspada dan Jaga Harmoni Alam

Foto : Pemerintah Kabupaten Tabanan memaknai Sasih Kaulu juga erat kaitannya dengan rangkaian spiritual umat Hindu di Bali. Setelah fase ini, masyarakat akan memasuki Sasih Kasanga, yang identik dengan pelaksanaan Bhuta Yadnya dan Tawur Kesanga sebagai rangkaian penyucian alam menjelang Hari Raya Nyepi.

TABANAN,Breaking-news.co.id | Fenomena angin barat yang semakin menguat disertai hujan lebat dan gelombang tinggi kembali dirasakan masyarakat Kabupaten Tabanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi cuaca ekstrem ini terutama berdampak pada wilayah pesisir, kawasan terbuka, serta sektor-sektor yang rentan terhadap perubahan alam.

Bagi masyarakat adat di Tabanan, situasi tersebut bukan semata-mata peristiwa meteorologis, melainkan bagian dari siklus alam yang lazim terjadi saat memasuki Sasih Kaulu, salah satu fase penting dalam penanggalan Bali yang menandai masa peralihan menjelang pergantian Tahun Saka.

Bacaan Lainnya

Dalam kearifan lokal Bali, Sasih Kaulu dikenal memiliki karakter alam yang kuat, baik secara sekala maupun niskala. Sejak dahulu, masyarakat adat memahami sasih ini sebagai periode meningkatnya dinamika alam, ditandai dengan hembusan angin barat yang kencang, gelombang laut yang tinggi, perubahan suhu, hingga potensi tumbangnya pepohonan. Fenomena tersebut dimaknai sebagai “bahasa alam” yang mengingatkan manusia agar meningkatkan kewaspadaan serta mawas diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Pemaknaan Sasih Kaulu juga erat kaitannya dengan rangkaian spiritual umat Hindu di Bali. Setelah fase ini, masyarakat akan memasuki Sasih Kasanga, yang identik dengan pelaksanaan Bhuta Yadnya dan Tawur Kesanga sebagai rangkaian penyucian alam menjelang Hari Raya Nyepi. Alam dipahami sedang berada dalam proses penyeimbangan, sebelum manusia diajak memasuki keheningan, perenungan, dan penyelarasan diri pada pergantian Tahun Baru Saka.

Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., menegaskan bahwa fenomena alam yang terjadi pada Sasih Kaulu harus disikapi dengan kesadaran kolektif dan kebijaksanaan bersama. Pemerintah daerah, kata dia, mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan potensi risiko yang menyertai cuaca ekstrem.

“Sasih Kaulu mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Pemerintah mengimbau masyarakat Tabanan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam beraktivitas di laut, sektor pertanian, dan kegiatan lain yang berisiko terdampak cuaca ekstrem,” ujar Bupati Sanjaya.

Ia menambahkan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama, seiring dengan meningkatnya intensitas cuaca ekstrem yang juga dipengaruhi oleh dinamika perubahan iklim global.

Selain aspek kewaspadaan, Bupati Sanjaya juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dan alam. Menurutnya, nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan leluhur Bali tetap relevan sebagai pedoman hidup masyarakat modern.

“Nilai-nilai Tri Hita Karana mengajarkan bahwa keseimbangan alam adalah bagian dari kesejahteraan masyarakat. Fenomena ini menjadi pengingat agar kita tidak bersikap abai, melainkan terus menjaga keselarasan dengan alam,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Bupati mengajak seluruh lapisan masyarakat menjadikan Sasih Kaulu sebagai momentum refleksi bersama menjelang perayaan Nyepi. Ia menegaskan bahwa persiapan menyambut Tahun Baru Saka tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga diwujudkan melalui perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Menjelang Nyepi, mari kita persiapkan diri secara lahir dan batin. Tidak hanya melalui pelaksanaan ritual adat, tetapi juga dengan memperkuat perilaku hidup yang bijaksana dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tegasnya.

Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, pemaknaan Sasih Kaulu menjadi semakin relevan bagi masyarakat Tabanan. Kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun mengajarkan bahwa alam selalu memberi tanda, dan manusia dituntut untuk mampu membaca serta merespons isyarat tersebut dengan kesadaran dan tanggung jawab bersama.

Sasih Kaulu tidak sekadar dipahami sebagai hitungan bulan dalam kalender adat, melainkan sebagai ruang refleksi kolektif agar hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas kembali berada dalam satu keseimbangan. Sebuah pengingat bagi masyarakat Tabanan untuk menata harmoni kehidupan, sebelum memasuki lembaran baru Tahun Saka melalui perayaan Nyepi yang sarat makna keheningan dan introspeksi. (kyn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *