DENPASAR, Breaking-news.co.id | Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 yang berlangsung pada 19–20 Maret 2026 berjalan dengan penuh kekhusyukan di seluruh Bali. Selama 24 jam pelaksanaan Catur Brata Penyepian, suasana pulau benar-benar hening, tertib, dan tanpa pelanggaran, mencerminkan kedisiplinan tinggi krama Bali dalam menjaga kesucian hari raya tersebut.
Nyepi bukan sekadar tradisi, melainkan warisan luhur yang terus dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat Bali. Dalam maknanya yang mendalam, Nyepi menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memuliakan alam semesta sekaligus melakukan introspeksi diri dengan menghentikan seluruh aktivitas kehidupan.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh krama Bali yang telah melaksanakan Nyepi dengan penuh disiplin dan khidmat. Ia menilai keberhasilan pelaksanaan Nyepi tahun ini menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga nilai-nilai adat, budaya, dan spiritualitas.
Tak hanya itu, suasana kebersamaan di Bali semakin terasa dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh pada 21 Maret 2026, hanya sehari setelah Nyepi. Umat Muslim di Bali turut merayakan Idul Fitri dengan penuh khidmat setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Gubernur Koster juga memberikan apresiasi kepada umat Muslim yang telah menunjukkan sikap toleransi tinggi, khususnya saat malam takbiran yang bertepatan dengan Hari Suci Nyepi. Pelaksanaan takbiran yang dilakukan di rumah masing-masing menjadi simbol nyata penghormatan terhadap umat Hindu yang tengah menjalankan Catur Brata Penyepian.
“Ini adalah wujud toleransi yang sangat indah dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan kehidupan bersama di Bali,” ujar Koster.
Momentum berdekatan antara Nyepi dan Idul Fitri tahun ini menjadi gambaran kuatnya nilai menyama-braya—semangat persaudaraan yang hidup di tengah masyarakat Bali. Keharmonisan antarumat beragama ini dinilai sebagai fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial dan keberlanjutan pembangunan daerah.
Pemerintah Provinsi Bali pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persatuan, menjaga kerukunan, serta memperkuat kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat gotong royong dan kebersamaan diharapkan mampu menjaga Bali tetap aman, nyaman, dan damai.
Hal ini sejalan dengan visi pembangunan daerah, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat secara sekala dan niskala.
“Rahayu sareng sami,” tutup Gubernur Koster, menegaskan harapan agar keharmonisan di Bali senantiasa terjaga.(red)





