Mengayuh Sepeda Kepemimpinan 10 Tahun, dr. I Wayan Sudana Akhiri Pengabdian di RSUP Prof. Ngoerah

DENPASAR, Breaking-news.co.id |  Suasana haru dan penuh rasa syukur mewarnai momen serah terima jabatan Direktur Utama RSUP Prof. Ngoerah. Setelah satu dekade memimpin, dr. I Wayan Sudana, M.Kes secara resmi mengakhiri masa baktinya untuk periode 2016–2026, meninggalkan jejak kepemimpinan yang sarat makna kebersamaan dan pengabdian.

Dalam sambutannya yang hangat dan reflektif, dr. Sudana membuka dengan salam lintas iman, menegaskan semangat inklusivitas yang selama ini menjadi ruh pelayanan rumah sakit.

“Sejatinya hari ini bukan tentang pergantian jabatan tetapi tentang melanjutkan Dharma Pelayanan,” ungkapnya di hadapan jajaran direksi, manajemen, tenaga kesehatan, serta keluarga besar rumah sakit.

Analogi Barong: Kepemimpinan adalah Kerja Bersama

Dengan gaya tutur yang puitis, dr. Sudana mengibaratkan perjalanan kepemimpinannya seperti menari Barong. Menurutnya, sosok yang tampak di depan bukanlah satu-satunya penentu, melainkan kekompakan seluruh tim.

“Di dalam tari Barong, yang di depan memang terlihat memimpin gerakan, tetapi yang di belakang yang menjaga keseimbangan. Kalau salah satu tidak kompak, Barong bisa jatuh. Dan selama sepuluh tahun ini, kita tidak pernah jatuh,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan rumah sakit selama satu dekade terakhir merupakan buah kerja kolektif seluruh elemen mulai dari dokter, perawat, tenaga kesehatan, staf, hingga manajemen yang bekerja dalam senyap.

Kepemimpinan: Antara Ketegasan dan Welas Asih

Merefleksikan perjalanan sepuluh tahun, dr. Sudana menyebut memimpin rumah sakit ibarat mengayuh sepeda yang harus menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan.

Menurutnya, dinamika yang dilalui tidak selalu mudah. Ada masa tenang, namun juga fase penuh gelombang. Dalam situasi sulit itulah, ia merasakan soliditas tim sebagai kekuatan utama.

“Tanpa dokter yang sigap, perawat yang tulus, staf yang setia, dan manajemen yang solid, saya hanyalah ‘dirut’ tanpa ‘rumah sakit’,” ucapnya penuh makna.

Ia pun menyampaikan terima kasih mendalam atas loyalitas, kritik, saran, bahkan “protes halus” yang selama ini justru membentuknya menjadi pemimpin yang lebih matang.

Tongkat Estafet untuk Generasi Penerus

Pada kesempatan tersebut, dr. Sudana secara resmi menyerahkan tongkat estafet kepada Direktur Utama yang baru. Ia menyatakan keyakinannya bahwa pemimpin baru memiliki kapasitas kuat karena pernah tumbuh dari dalam organisasi.

“Ini seperti melihat anak panah yang dulu kita bantu arahkan, kini melesat lebih jauh dari busurnya,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman penerusnya sebagai bagian dari internal rumah sakit menjadi modal penting untuk memimpin dengan empati dan semangat menyama braya.

Menjaga Harmoni Tri Hita Karana

Menutup sambutan, dr. Sudana mengajak seluruh keluarga besar rumah sakit untuk terus menjaga harmoni sesuai nilai Tri Hita Karana keselarasan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Harapannya, RSUP Prof. Ngoerah tidak hanya menjadi tempat berobat, tetapi juga ruang bertumbuh dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Dengan penuh kerendahan hati, ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama masa kepemimpinannya terdapat tutur kata maupun kebijakan yang kurang berkenan.

“Hari ini saya pamit dari jabatan, namun tidak dari persaudaraan. Saya bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan besar rumah sakit ini,” pungkasnya.

Serah terima ini menandai babak baru kepemimpinan rumah sakit rujukan nasional di Bali tersebut, sekaligus meneguhkan kesinambungan Dharma Pelayanan yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.(red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *