BANYUWANGI, Breaking-news.co.id | Organisasi sosial keagamaan Manggala Taksu Agung melaksanakan kunjungan spiritual sekaligus kegiatan sosial ke wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
Kegiatan ini menyasar umat Hindu yang tinggal di kawasan pelosok, khususnya di sekitar Alas Purwo dan kaki Gunung Raung.
Kunjungan yang dikemas dalam kegiatan simakrama tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap keberadaan umat Hindu di luar Pulau Bali, terutama yang hidup dalam keterbatasan fasilitas keagamaan dan pendidikan.
Ketua Manggala Taksu Agung, Jro Gede Widhi mengungkapkan rasa haru dan kekagumannya terhadap keteguhan umat Hindu di Banyuwangi yang tetap menjalankan keyakinannya dengan penuh semangat.
“Kami merasa terketuk untuk membantu saudara-saudara kita di sini. Saya melihat sendiri bagaimana mereka tumbuh dari hati, memiliki semangat luar biasa, bahkan berinisiatif membangun tempat suci secara mandiri di wilayah mereka,” kata Jro Gede Widhi di sela-sela kunjungannya.
Dukung Pembangunan Pelinggih di Lingkungan Sekolah
Salah satu agenda penting dalam kunjungan tersebut adalah memenuhi undangan panitia pembangunan pura atau pelinggih di lingkungan SMP 2 Anglimo Raung.
Pertemuan tersebut dihadiri lebih dari 60 orang tua dan wali murid Hindu yang menyampaikan berbagai aspirasi serta kendala dalam penyediaan fasilitas ibadah bagi siswa.
Menanggapi hal tersebut, Ibu Sinar yang merupakan salah satu pendiri Manggala Taksu Agung menyatakan komitmennya untuk membantu pembangunan sarana keagamaan.
Melalui relawan Dharma Manggala Taksu Agung, bantuan yang akan dihaturkan antara lain satu unit Pelinggih Padma Sari, satu unit Pelinggih Penunggun Karang, patung Ganesha dan Dewi Saraswati, paket lengkap upakara atau banten pemlaspasan serta piodalan, hingga pemuputan upacara oleh Ida Peranda.
Tidak hanya bantuan fisik, Ibu Sinar juga akan mempersembahkan Tarian Topeng Wali saat piodalan bertepatan dengan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada 4 April 2026 sebagai bentuk pengabdian atau ngayah.
Pesan Penguatan Bagi Umat Minoritas
Dalam kesempatan tersebut, Jro Gede Widhi juga memberikan pemaparan mengenai tata cara pembangunan pelinggih yang sesuai dengan sastra agama Hindu. Ia sekaligus memberikan motivasi kepada umat Hindu yang hidup sebagai kelompok minoritas.
“Jangan berkecil hati menjadi minoritas. Beragama itu fokus ke dalam diri. Lakukan yadnya sesuai kemampuan dan sarana yang ada di wilayah setempat. Jangan terbebani untuk harus menjadi ‘seperti di Bali’. Yang terpenting adalah penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha dan Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Semangat gotong royong juga terlihat dari kesiapan Jro Mangku Pande, penari topeng dari Manggala Taksu Agung, yang menyatakan kesediaannya untuk ngayah. Pihak sekolah pun menyambut baik, bahkan iringan gamelan akan disiapkan oleh para guru setempat.
Rangkaian Persembahyangan di Situs Suci
Selain kegiatan sosial, rombongan Manggala Taksu Agung juga menjalani rangkaian perjalanan spiritual di sejumlah situs suci. Kegiatan diawali dengan mekemit di Pura Alas Purwo, dilanjutkan persembahyangan di Pura Kawitan serta Nataran Pura Alas Purwo.
Selanjutnya, rombongan menuju Petirtaan Beji Gumuk Kancil di lereng Gunung Raung untuk melakukan prosesi penglukatan dan persembahyangan di Pura Candi Gumuk Kancil.
Kunjungan kemudian ditutup di Pura Sandya Dharma yang saat ini tengah membangun wantilan sebagai balai pertemuan dan tempat pembelajaran agama atau santi.
Atas kedekatan yang terjalin selama kegiatan tersebut, Manggala Taksu Agung juga diundang kembali untuk menghadiri piodalan yang dijadwalkan berlangsung pada 18 April 2026.
Melalui kegiatan ini, Manggala Taksu Agung berharap semakin banyak umat Hindu di Nusantara yang tergerak untuk menunjukkan solidaritas dan kepedulian terhadap keberadaan situs suci serta pembinaan umat di daerah-daerah terpencil. (red)