BADUNG, Breaking-news.co.id | Industri minuman tradisional Bali memasuki babak baru yang bersejarah. Tepat pada peringatan Hari Arak Bali ke-6 yang digelar di The Westin Resort Nusa Dua, Kamis (29/1/2026), Pemerintah Provinsi Bali resmi menerima “kado besar” berupa izin produksi industri dari Kementerian Perindustrian RI.
Penyerahan izin simbolis ini diterima langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, dari Plt. Dirjen Industri Agro, Putu Juli Ardika. Langkah ini menandai legalitas penuh bagi para perajin lokal untuk bernaung di bawah payung hukum yang kuat melalui Perumda Kertha Bali Saguna dan PT Kanti Barak Sejahtera.
Dalam sambutannya yang penuh nostalgia, Gubernur Koster mengenang bagaimana regulasi Arak Bali (Pergub No. 1 Tahun 2020) lahir tepat sebelum pandemi melanda. Menariknya, ia mengungkapkan bahwa Arak Bali sempat menjadi salah satu kunci percepatan penanganan Covid-19 di Pulau Dewata melalui penggunaan usada barak.
“Minum arak secara tertib, bukan untuk mabuk. Setengah sloki dicampur kopi tanpa gula, itu yang saya endorse untuk menjaga imun. Terbukti, Covid-19 di Bali bisa terkendali lebih cepat dan resmi tuntas pada Maret 2022,” ujar Koster di hadapan para undangan.
Hingga kini, Gubernur Koster masih konsisten menjadikan campuran kopi dan arak sebagai resep stamina harian. Menurutnya, kadar pH arak yang tinggi mencapai angka 12 merupakan penangkal virus yang efektif jika dikonsumsi secara bertanggung jawab.
Dominasi Arak Bali kini tidak bisa dipandang sebelah mata. Saat ini, tercatat ada 58 merek lokal yang telah berkembang pesat. Salah satu pencapaian membanggakan terjadi di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
“Di terminal keberangkatan internasional, produk arak dari Lovina sukses menjadi best seller. Bahkan penjualannya mengalahkan merk ternama seperti Red Label, dengan angka mencapai 7.000 botol per bulan,” ungkap sang Gubernur dengan nada bangga.
Mengusung tema “Arak Brem Bali – Local Spirit Goes Global”, Pemprov Bali kini membidik target ambisius: menjadikan Arak Bali sebagai salah satu dari tujuh spirit utama dunia.
Untuk menjamin keberlanjutan ekosistem, pemerintah juga mulai melakukan penanaman massal kelapa genjah. Pohon yang hanya setinggi empat meter ini diproyeksikan mulai panen dalam tiga hingga empat tahun ke depan sebagai pemasok bahan baku utama.
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Arak Bali 2026, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menegaskan bahwa momentum ini adalah titik balik bagi martabat pengrajin lokal.
“Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah konsolidasi besar untuk membawa warisan budaya-spiritual kita ke panggung dunia tanpa kehilangan akar tradisinya,” tutup Partha Adnyana.
Dengan dukungan regulasi, sertifikasi HKI, dan izin industri yang kini telah di tangan, Arak Bali siap bersaing secara elegan di kancah internasional. (Surya)





