BANGLI, Breaking-news.co.id | Petani di Kecamatan Kintamani, Bangli mengeluh atas penomena yang menerpa. Tanaman jeruk dan cabe petani Kintamani terancam gagal panen akibat serangan penyakit. Beraneka obat telah digunakan namun tidak mempan, menyebabkan mereka pasrah. Mereka yakini tanaman yang diharapkan bisa menghidupi keluarganya bakal gagal panen.
Petani di Desa Bonyoh, I Ketut Lingga, Kamis (26/2/2026) menyampaikan keluhan atas kondisi yang menimpa jeruk dan cabainya. Kedua jenis hortikultura yang mereka punya tak dapat diharapkan bisa panen untuk menghidupkan dapurnya. ” Ty punya cabe punya jeruk, keduanya tak bisa saya harapkan untuk bisa hasilkan uang”, ujar Lingga yang mantan Ketua BPD Desa Bonyoh ini. Dia sadari musim hujan berpotensi membawa penyakit. Tanaman cabenya mengalami kriting daun, bahkan sampai mati. Dia mengaku telah menggantinya dengan tanaman cabai baru, tapi sia- sia karena tak mendapat ampun dari serangan kriting daun hingga layu dan akhirnya mati. Beraneka obat diakui telah digunakan namun tetap saja cabai kriting, kerdil dan layu, lalu mati. Sementara buah jeruknya keluh dia buah masih kecil kena penyakit dan busuk lalu jatuh di pohon.
Tanaman jeruk dan cabai lainnya seperti tananam jeruk di Desa Suter juga mengalami serangan serupa, hingga buahnya rontok. Tambah Ketut Lingga selain buah jeruk rontok, daun jeruk juga menguning. Menurutnya pohon dan akar jeruk sudah terkena penyakit. ” Itu pak daun jeruk menguning, tak lama lagi akan mati”, imbuhnya. Petani jeruk di Desa Suter, Wayan Jaba juga mengeluhkan tanaman jeruknya di serang penyakit. Dia yang mengaku memiliki luas tanam 2, 5 hektar tanaman, sebagian besar mengalami rontok buah menyusul busuk akibat penyakit. ” Buah baru setengah umur udah kena penyakit, ada titik hitam lalu membusuk dan akhirnya jatuh” Jelasnya.
Untuk diketahui di kawasan jeruk sekarang sudah banyak dikembangkan cabai. Karena petani tak ingin ketergantungan dengan satu jenis komoditi, untuk mengurangi kerugian di saat jeruk gagal panen. Tetapi nasib apes kedua jenis terkena penyakit. Sehingga petani benar- benar terpukul.
Anggota Komisi II DPRD Bangli, I Made Diksa, ketika dimintai sikapnya atas kondisi tanaman jeruk dan cabai, dia berharap petani benar- benar harus mendapat pendampingan dari petugas penyuluh lapangan (PPL) bidang pertanian. Karena mereka yang kompeten tentang tanaman dan penyakit. Ia berharap PPL intensif terjun ke lapangan menemani petani. Sebaliknya kepada petani, Made Diksa berharap penuh hati- hati dan berspekulasi untuk memilih jenis tanaman dan varietas di saat musim hujan. Intinya dia berharap petani rajin untuk menagih ilmu dan arahan PPL untuk meminimalisir kerugian atau gagal panen. ” Memang kalo musim hujan begini petani harus ekstra hati-hati dan telaten memelihara tanaman”, imbuhnya. Terhadap penomena tersebut dia bergarap PPL dapat melaporkankan kondisi riil untuk diketahui Komisi II untuk kemudian dibedah di dalam rapat kerja. ” PPL mohon bawa laporan dan kita bahas di dalam rapat kerja di komisi nanti” , imbuh Made Diksa. (sum)





