BANGLI, Breaking-news.co.id | Subak Abian di Kabupaten Bangli, khususnya di Kecamatan Kintamani mempertanyakan kesinambungan dana hibah dari Pemerintah Provinsi Bali yang kini putus tanpa ada ceritanya. Konon saat kepemimpinan Made Mangku Pastika, semua Subak Abian mendapatkan bantuan dana BKK (sekarang dana hibah).
Kelian Subak Abian Paselatan, Desa Suter, Kintamani, Bangli, I Nengah Suradnya mempertanyakan keberlangsungan bantuan tersebut. Kepada awak media, Minggu (6/9-2026) via ponselnya, Suradnya mengatakan bantuan tersebut sangat membantu meringankan beban subak, karena kewajiban subak yang tidak bisa diabaikan terutama berkaitan dengan ritual (yadnya).
“Dahulu subak- subak abian dapat bantuan, saat gubernurnya Made Mangku Pastika, sekarang kok ga”, tanya Suradnya kecewa.
Dikatakan bahwa subak yang dipimpinnya berkewajiban melaksanakan upacara lima kali dalam setahun. Sekali upacara menghabiskan dana kl. Rp. 18 juta. Papar Suradnya upacara tersebut meliputi upacara Magpag Toya, kemudian Upacara Mungkah, upacara Nyungsung dan Upacara Ngatag saat Tumpek Uye.Hitung- hitung Upacara Ngatag berjalan dua kali dalam setahun. Makanya dalam setahun subaknya melangsungkan 5 kali upacara. Dapat dihitung seberapa besar dana yang dikeluarkan subak dalam setahun.

” Kami laksanakan upacara lima kali dalam setahun, sekali upacara biayanya delapan belas juta rupiah”, jelasnya. Tanpa bermaksud bahwa pihaknya tidak tulus beryadnya, namun menurutnya butuh bantuan pemerintah untuk meringankan beban tersebut. Karena itu Suradnya ingin dana hibah seperti dulu bisa diberikan oleh Pemprov Bali seperti dahulu. Dia tidak ingin pemerintah sebatas memberikan pujian tentang peran penting subak sebagai lembaga yang punya peran menjaga ketahanan pangan, tetapi tidak ditunjukkan dengan bentuk komitmen yakni dengan membantu meringankan beban subak.
Adapun jumlah krama Subak Abian Paselatan 155 KK. Rata-rata rata petani di sini bertanam jeruk dan kopi. Petani sudah biasa melakukan petik merah untuk menghasilkan kopi berkualitas. Seiring bantuan Pemprov Bali yang diputus, entah tahun berapa diputus, petani mengakui besarnya biaya untuk pelestarian subak menjadikan mereka semakin terjepit di tengah upaya pelestarian subak. Akankah Pemprov Bali berbaik hati kepada subak abian.
Sementara kelian subak ketika ditanya soal perlunya bantuan dana dari Pemkab Bangli, Suradnya justeru mengaku memaklumi kondisi keuangan APBD Bangli. ” Kalau dari Pemkab Bangli meski ga ada bantuan ke subak abian kami bisa maklumi kondisi keuangannya”, tegasnya. (sum)






