BANGLI, Breaking-news.co.id | Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, mengajak seluruh pengurus dan anggota Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) memperkuat persatuan, gotong royong, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Lokasabha VIII MGPSSR Kabupaten Bangli di Kantor Bupati Bangli, Minggu (1/11/2026), bertepatan dengan Redite Paing Sinta.
Giri Prasta yang juga menjabat sebagai Ketua MGPSSR Provinsi Bali menegaskan bahwa menjadi pengurus organisasi merupakan bentuk pengabdian yang harus dilandasi kebersamaan, kesetaraan, dan ketulusan.
“Jadi pengurus adalah pengabdian. Berbagi, secangkir kopi dibagi rata. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, persatuan menjadi modal utama dalam mencapai keberhasilan organisasi maupun pembangunan. Tanpa kebersamaan, berbagai upaya yang dilakukan akan sulit mencapai hasil maksimal.
“Kalau kita bersatu, setengah perjuangan berhasil. Kalau tidak bersatu, setengah perjuangan gagal,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi semangat persaudaraan MGPSSR yang terus dijaga melalui kegiatan bakti dan ngayah. Semangat tersebut dinilai penting untuk memperkuat hubungan antarpesemetonan sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Giri Prasta mengingatkan bahwa konsep Vasudhaiva Kutumbakam, yang bermakna seluruh dunia merupakan satu keluarga, harus menjadi landasan dalam menjaga persaudaraan.
“Konsep kita adalah bersaudara, Vasudhaiva Kutumbakam. Astungkara, di Bali semua bersatu dan mendukung,” katanya.
Ia mendorong MGPSSR untuk terus memperkuat hubungan antarpesemetonan melalui kegiatan sosial, pembangunan, serta pelaksanaan upacara keagamaan.
Dalam kesempatan tersebut, Giri Prasta juga menekankan pentingnya peran organisasi pesemetonan dalam mendukung pembangunan Bali, termasuk menjaga kelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai keagamaan.
Ia mengajak MGPSSR bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung berbagai program pembangunan, termasuk kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster terkait penataan kawasan Pura Agung Besakih dan pura pedarman.
Menurutnya, semangat kebersamaan dan gotong royong perlu terus diperkuat agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga menjaga nilai-nilai spiritual dan budaya masyarakat Bali.
Selain itu, Giri Prasta mendorong pemberdayaan potensi lokal untuk memenuhi kebutuhan sarana upacara keagamaan secara mandiri.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan Taman Gumi Banten sehingga kebutuhan masyarakat terhadap sarana upacara dapat dipenuhi dari potensi lokal.
Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat Bali.
“Ini menjadi jembatan emas bagi generasi berikutnya, agar Bali tetap terjaga dan ajeg,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MGPSSR Kabupaten Bangli, I Ketut Kayana, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wakil Gubernur Bali dalam kegiatan tersebut.
Ia berharap Lokasabha VIII menjadi momentum memperkuat persatuan, melakukan konsolidasi organisasi, serta meningkatkan kontribusi anggota dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Lokasabha VIII dilaksanakan menyusul berakhirnya masa jabatan kepengurusan sebelumnya. Agenda utama kegiatan ini meliputi pemilihan pengurus baru dan penyusunan program kerja untuk lima tahun mendatang.
Rangkaian pembahasan meliputi paruman, penyampaian program kerja, laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya, serta pembahasan calon pengurus baru.
Hasil pembahasan selanjutnya diagendakan dalam sidang paripurna sebagai bagian dari proses penetapan kepengurusan dan arah program kerja organisasi ke depan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta dan Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar.
Bupati Sedana Arta didaulat oleh Wagub Giri Prasta untuk memukul gong sebagai tanda dimulainya Lokasabha VIII MGPSSR Kabupaten Bangli.
Melalui lokasabha ini, MGPSSR diharapkan semakin solid dalam menjalankan pengabdian, memperkuat persaudaraan, serta berkontribusi nyata dalam menjaga keharmonisan dan kelestarian adat, budaya, serta tradisi Bali. (sur)





