DENPASAR, Breaking-news.co.id | Pembangunan pusat Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) resmi dimulai di kawasan Pedungan, Denpasar Selatan. Proyek strategis ini menjadi langkah konkret dalam mewujudkan pengelolaan limbah modern yang berkelanjutan bagi Pulau Dewata.
Dalam sambutannya, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa proyek PSEL ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov Bali, Pemkot Denpasar, Pelindo, serta pemerintah pusat. Pemkot Denpasar bersama Pelindo menyediakan lahan seluas enam hektare, sementara Pemprov Bali mematangkan lahan untuk mempercepat konstruksi.
“Semoga pembangunan selesai tepat waktu dalam 1 tahun 8 bulan atau sekitar Oktober 2027. Jika PSEL ini rampung, persoalan sampah di Bali yang mencapai jutaan ton dari aktivitas warga dan 16 juta wisatawan dapat tertangani secara tuntas,” ujar Gubernur Koster.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani serta Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengapresiasi sinergi lintas instansi. Proyek bernilai investasi Rp3 triliun ini dijalankan secara cepat sesuai arahan Presiden demi menjamin kelestarian lingkungan Bali.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, memaparkan bahwa PSEL Bali menggunakan teknologi moving grate incinerator dengan sistem Air Pollution Control System (APCS) standar emisi Eropa (EU IED) yang mampu menekan emisi hingga 80 persen dibanding TPA open dumping.
Spesifikasi dan Manfaat PSEL Bali:
-
Kapasitas Pengolahan: 1.500 ton sampah per hari.
-
Pasokan Energi: Mampu menyuplai listrik untuk sekitar 100.000 rumah.
-
Dampak Ekonomi: Membuka hingga 1.200 lapangan kerja hijau (green jobs).
-
Target Komersial: Beroperasi penuh pada Semester I Tahun 2028.
Selain fungsi teknis, fasilitas PSEL Bali dirancang mengusung filosofi Tri Hita Karana dengan arsitektur lokal Bali serta dilengkapi pusat edukasi (visitor center) bagi masyarakat dan peneliti. (Sur)





